BREAKING NEWS
Tampilkan postingan dengan label Daerah ku Tidore. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daerah ku Tidore. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Agustus 2016

MAKANAN KHAS

Makanan khas

Makanan khas kota tidore ini yang tidak terdapat di daerah lain di Maluku Utara adalah lapis tidore, kue bilolo, mam raha, popeda, Sagu tore Ada juga tela gule dan uge ake. serta nasi jaha








BUDAYA


Sumber: klik

kota ini adalah kota TIDORE .
Tidore adalah salah satu pulau yang di kelilingi beberapa pulau di wilayah timur. Tidore ini juga bisa di lihat pulaunya melalui uang seribu rupiah. Yang mempunyai banyak budaya.. Masyarakat di sana pun sangat antusias.
Pulau tidore atau yang sekarang di sebut kota tidore ini sangat menjaga kekayaan alam nya ,contoh kekayaan alam yang paling di jaga adalah laut, masyarakat di kota ini sangat menjaga kebersihan lautnya karena laut ini menjadi salah satu mata pencaharian utama mereka.
Di tidore masih memiliki suku asli nya sendiri yaitu suku BOBO . suku BOBO ini memiliki persamaan dengan suku papua mulai dari kulit,rambut,sampai bahasa. Persamaan di sini bukan dalam arti yang sama persis, tapi perbedaannya sangat tipis. Penduduk asli kota ini juga mengikuti perkembangan zaman tapi tidak melupakkan adat atau tradisi-tradisi dari leluhur mereka . di kota tidore ini sangat banyak adat dan tradisi mereka yaitu tradisi :

Niat Kesultanan di antaranya puji-pujian (suba) :

-         - Suba Kie Se Atowan, atau Sembah puji kerajaan
-         - Suba Tawara, atau Sembah memohon diri :
-Upacara Lufukie (Keliling Pulau Tidore) adalah upacara ini di iringi dengan kora-kora (junoa) dari Semangaji Segi Marahaha berjumlah 12 buah kora-kora.

Jojaru ( perempuan beranjak Remaja)

Seperti tradisi-tradisi ketika mau menikah, laki-laki dan wanita di pingit sampai hari pernikahan, tapi di sini apabila seorang anak perempuan yang baru menginjak remaja (Menstruasi)  maka anak perempuan ini akan di pingit selama 9 hari tidak bisa keluar rumah dan mendapat sinar matahari langsung. Dan kegiatannya selama di pingit adalah memakai bermacam ramuan tradisional seperti bedak-bedak buatan para tetua yang di oleskan kesekujur tubuh, berguna untuk kecantikan alami perempuan itu.

Pernikahan

-         - Jako Seruko ( hantaran)
-        -  Lahi ( Peminangan)
-        -  Fowu Saro ( Suguhan Makanan Untuk Pengantin) 

CIRI KHAS

Terlebih dahulu saya memperkenalkan Profile Kota Tidore.
Kota Tidore Kepulauan
Lambang Kota Tidore Kepulauan.png
Lambang Kota Tidore Kepulauan
Semboyan: Toma Loa Se Banari
Tidore.jpg

Peta lokasi Kota Tidore Kepulauan
Koordinat
Dasar hukum
Tanggal Peresmian
31 Mei 2003
Tidore
Pemerintahan
 - Walikota
 - DAU
Rp. 443.177.446.000.-(2013)[1]
Luas
9.564,7 km²[2][3]
Populasi
 - Total
111.000 jiwa (2010)[4]
 - Kepadatan
51
Demografi
0921
Pembagian administratif
 - Kecamatan
9
 - Kelurahan
32 kelurahan, 37 desa
Simbol khas daerah
 - Situs web
tidorekota.go.id
1. Kota Tidore Kepulauan adalah salah satu kota di provinsi Maluku UtaraIndonesia. Kota ini memiliki luas wilayah 9.564,7 km² dan berpenduduk sebanyak 111.000 jiwa (2010).
Kota Tidore dipimpin oleh wali kota Captain Ali Ibrahim dan wakil wali kota Muhammad Senin (2016 - 2021).
2. Sejarah Kota ini sudah terkenal sejak zaman penjajahan dahulu karena cengkeh dan pala. Bangsa Eropa pertama yang menginjakkan kakinya di Tidore adalah pelaut dari Spanyol yang sampai ke Tidore tahun 1512. Kota ini juga sempat menjadi ibukota provinsi perjuangan Irian Barat. Gubernur pertamanya adalah Zainal Abidin Syah yang juga Sultan Tidore. Setelah Papua masuk ke wilayah Republik Indonesia, statusnya berubah menjadi ibukota daerah administratif Halmahera tengah dengan ibukota Soa Sio Tidore. Tahun 1990, status daerah administratif berubah menjadi kabupaten Halmahera Tengah. Pada tahun 2003, Tidore menjadi kota dengan nomenklaturnya Kota Tidore Kepulauan, dengan penjabat wali kota pertama adalah Drs. M. Nur Djauharidan penjabat wali kota kedua adalah Drs. Mahmud Adrias. Suku Tidore berdiam di Pulau Tidore, yang termasuk wilayah Kabupaten Halmahera Tengah, Propinsi Maluku. Di wilayah itu, terutama di Soa-siu, ibukota kecamatan, berdiam pula anggota suku bangsa lain, sedangkan di desa-desa Pulau Tidore penduduknya yang dominan orang Tidore. Orang Tidore mempunyai bahasa sendiri, yaitu bahasa Tidore. Di samping itu mereka juga memahami bahasa Ternate yang sejak lama menjadi lingua franca di kawasan Halmahera. Para pengamat kebudayaan didaerah Maluku Utara dan Halmahera Tengah pernah membuat pembagian daerah kebudayaan, yaitu Daerah Kebudayaan Ternate, Daerah Kebudayaan Tidore, dan Daerah Kebudayaan Bacan. Daerah Kebudayaan Tidore sendiri mencakup Kepulauan Tidore, dan Halmahera Tengah/Timur.
Mata pencaharian pokok sebagian besar masyarakat Tidore adalah bercocok tanam di ladang, menangkap ikan, berdagang, atau menjadi pegawai negeri. Di ladang mereka menanam padi, jagung, ubi jalar, ubi kayu, kacang tanah, dan kacang hijau. Tanaman yang penting adalah cengkeh, pala, kelapa, coklat. Dalam hal kekerabatan mereka menarik garis keturunan berdasarkan prinsip patrilineal. Salah satu kelompok kekerabatan yang penting adalah klen patrilineal, yang mereka sebut soa. Perkawinan ideal menurut adat mereka adalah kawin antara saudara sepupu (kufu). Adat menetap sesudah nikahnya utrolokal, artinya sepasang pengantin bebas memilih untuk menetap di lingkungan kerabat suami atau di lingkungan kerabat istri. Jojaru ( perempuan beranjak Remaja).
Suku Tidore umumnya beragama Islam. Tidore juga merupakan salah satu pusat pengembangan agama Islam di Maluku. Setiap desa ditandai oleh mesjid atau surau. Para pemimpin informal di desa-desa terdiri atas ustadz atau ulama.

3. ciri khas. orang Tidore masih melekat hingga kini yakni sarat akan kehidupan animisme (Menyembah Roh nenek moyang) dan bersahabat dengan kaum Jin. Meski pada persoalan Animisme dalam agama Islam bertolak belakang, namun para Ulama penyebar Islam di tanah Maluku Utara berhasil (Syekh Yaqub hingga Imam Djafar serta ulama lainnya) mampu dan berhasil memberikan pengetahuan dasar hakekat (Guna memberikan pemahaman akan kosmo kekuasaan dan khalayak kepemimpinan alam yang sebenarnya) lewat pengenalan identitas ketuhanan (Illahi) tanpa menggeser fondasi keimanan utama masyarakat akan kepercayaan peran (Roh) nenek moyang dalam kehidupan dan adatnya yang diimani jauh sejak Islam ada. Para ulama paham dengan kondisi ini olehnya itu konsekuensinya adalah Islam harus dikenalkan dengan tingkat yang jauh lebih tinggi dengan metode yang tinggi pula tak seperti di jawa (Wali Songo) dengan pendekatan Syariat-Kulturalnya. Usaha islamisasi agak berbeda dan sulit karena masyarakat (Maluku Utara kuno) saat itu telah maju secara pemikiran (Bijaksana) dan memiliki bakat alami yang mumpuni (Sakti).

                                        Sumber: klik


gambar Ritual Salai Jin.


Video Tarian Salai Jin
                                         Sumber: klik
                                                
 
Copyright © 2014 Tidore Tour Malang

Powered by Themes24x7

Powered by themekiller.com